Jumat, 27 Juni 2008

ABSURD

SMS yg kau kirim pagi itu cukup menghentakkan hati. Pertanyaan yang kau lontarkan. Pertanyaan singkat tapi memaksaku untuk kembali mengurai helai helai perasaan di dalam diriku. Sudah beberapa tahun kita saling mengenal. Bahkan mungkin aku berani bertaruh, kaulah yang paling tau aku luar dalam. Segala macam sifatku yang mungkin orang lain tidak bisa memahami. Begitu pula sebaliknya. Aku yang paling memahamimu.

Tapi mengapa tiba-tiba ada pertanyaan seperti itu?Mengapa tiba-tiba hatimu ragu?

Kita pernah berada dalam lingkaran itu. Sama sama merasakan pahit getir perjalanan. Kita punya pikiran dan cita-cita yang sama. Kita sama-sama tidak tahan melihat kemiskinan. Kita tidak tahan melihat masyarakat yang kelaparan sedang perut kita kenyang. Kita tidak tahan melihat anak-anak kecil yang seharusnya sekolah malah bertelanjang dada mengemis dijalan jalan. Kita tidak tahan melihat bangsa ini yang semakin terpuruk. Kita sama sama gelisah karena kita tak bisa berbuat apa-apa. Tapi kita saling menguatkan. Saat aku meragu pun, kau meyakinkan dengan perkataan yang sudah kuhapal, “tenang san, kita bisa melakukannya bersama”

Sahabat, sudah pudarkah semuanya? Aku merasakan sekarang kita semakin jauh. Bukan fisik kita, tapi kesamaan perasaan kita. Maaf jika ini semua berasal dari kesalahanku. Aku mungkin yang terlalu egois dengan duniaku. Hingga aku lupa bahwa kau pun memerlukan cinta dan perhatian. Maaf…

Pagi itu, kau meragukanku. Kau sendirian. Bahkan saat menjalani waktu waktu tersulit sepanjang hidupmu. Kau tak yakin lagi apakah aku masih ada cinta untukmu…. Aku faham. Memang seharusnya aku ada didekatmu saat ujian itu Alloh turunkan untuk mengujimu. Sekali lagi maaf…

Aku rindu kau bangkit kembali seperti biasanya. Bercerita tentang cita-cita kita. Dengan semangat khasmu. Aku rindu perhatianmu…

Aku hanya ingin mengungkapkan, bahwa cinta itu masih tersimpan rapi. Pun dengan cita-cita kita. Di hati ini. Mungkin aku tak pandai mengungkapkan. Tapi kumohon kau percaya kembali. Aku belum berubah. Masih menanti kepulanganmu.Untuk kembali duduk memandang senja sambil berbicara tentang kehidupan. Tentang bagaimana kita bisa merubah segalanya. Aku menunggumu… Hingga saat ini…..

Jogja, awal Juni 2008

Untuk seseorang, aku menunggu kepulanganmu…